Judul: Seribu Kerinduan
Penulis: Herlina P. Dewi
Penerbit: Stiletto Book
Tebal buku: 241 hlm
Terbit: November 2013
Penulis: Herlina P. Dewi
Penerbit: Stiletto Book
Tebal buku: 241 hlm
Terbit: November 2013
Renata, seorang fashion editor dengan karier cemerlang di kantornya, harus pasrah pada keadaan. Setelah berpisah dengan Panji, lelaki yang sudah dipacari selama empat tahun karena perjodohan biadab itu, dia pergi ke semua tempat yang pernah mereka singgahi untuk menelusuri jejak-jejak kebersamaan. Hidup menjadi sangat membosankan baginya, karena hari-harinya kini hanya dihabiskan untuk mengenang Panji. Dia pun lantas memilih menjadi pelacur, karena dengan profesi barunya itu, dia kembali merasa dicintai, dihargai, dibutuhkan dan disanjung.
Namun, ia sadar, menjadi pelacur hanyalah sebuah persinggahan sebelum dia benar-benar melanjutkan hidup sesuai dengan keinginannya. Lantas, kehidupan seperti apa yang sebenarnya ingin dijalaninya? Tanpa Panji? Bisakah?
Novel ini sukses membuatku geregetan sekaligus baper (terbawa perasaan) banget, sumpah. Geregetan karena tokoh utama pria (Panji) yang membuatku berpikir laki-kok-gitu-sih atau itu-laki-apa-bocah atau ogah-deket-deket-sama-cowok-kayak-dia (hahaha, udah kayak penonton Uttaran aja kan aku, terbawa emosi sampai segitunya); baper karena tokoh utama wanita (Renata) yang sempat terkesan miserable. Oh, cerita menuju ending juga membuatku baper sebenarnya; tentang bagaimana Panji berusaha untuk *pip* (eh tak boleh ada spoiler di sini, hahaha). Di satu sisi aku tidak menyukai sensasi yang timbul setelah membacanya, tapi di sisi lain aku rasa novel ini oke juga karena mampu membuat pembaca terhanyut ke dalam cerita.
Namun, ia sadar, menjadi pelacur hanyalah sebuah persinggahan sebelum dia benar-benar melanjutkan hidup sesuai dengan keinginannya. Lantas, kehidupan seperti apa yang sebenarnya ingin dijalaninya? Tanpa Panji? Bisakah?
***
Novel ini sukses membuatku geregetan sekaligus baper (terbawa perasaan) banget, sumpah. Geregetan karena tokoh utama pria (Panji) yang membuatku berpikir laki-kok-gitu-sih atau itu-laki-apa-bocah atau ogah-deket-deket-sama-cowok-kayak-dia (hahaha, udah kayak penonton Uttaran aja kan aku, terbawa emosi sampai segitunya); baper karena tokoh utama wanita (Renata) yang sempat terkesan miserable. Oh, cerita menuju ending juga membuatku baper sebenarnya; tentang bagaimana Panji berusaha untuk *pip* (eh tak boleh ada spoiler di sini, hahaha). Di satu sisi aku tidak menyukai sensasi yang timbul setelah membacanya, tapi di sisi lain aku rasa novel ini oke juga karena mampu membuat pembaca terhanyut ke dalam cerita.






